Teori-teori pembelajaran
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian teori pembelajaran
Pitchard (2009) menyatakan bahwa teori pembelajaran adalah sebuah proses perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau percobaan. Teori ini memperoleh sebuah ilmu atau pengetahuan yang diperoleh dari proses belajar. Tujuannya bervariasi, bisa jadi untuk menambah ilmu, pengetahuan, hingga keterampilan, melalui proses belajar berdasarkan instruksi-instruksi tertentu. Hasil akhir dari proses pembelajaran adalah perilaku yang berubah, terbentuk, atau terkontrol.
Schunk (2012) menyatakan bahwa teori pembelajaran adalah proses mengumpulkan serta memodifikasi pengetahuan, keterampilan, strategi, kepercayaan, sikap dan perilaku. Mulai dari pengetahuan dan keterampilan yang berbentuk kognitif, linguistik, sosial, dan lain sebagainya. Proses pembelajaran dipengaruhi oleh berbagai macam faktor dan prinsip yang diterapkan pada konteks pendidikan.
Di dunia psikologi pendidikan, terdapat beberapa macam teori pembelajaran. Pada awalnya, satu teori dan teori lainnya dianggap berbeda dan memiliki karakteristiknya masing-masing. Namun demikian, dalam praktiknya, berbagai macam teori tersebut akan melengkapi satu sama lain. Tidak ada satu teori sempurna yang dapat selalu memastikan proses belajar mengajar menjadi baik.
Teori-teori pembelajaran
Teori behavioristik
Pengertian teori behavioristik
1)Menurut Thorndike
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat di tangkap melalui alat indera.
Sedangkan respon yaitu reaksi yang di munculkan siswa ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Dari definisi belajar tersebut maka menurut Thorndike perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan belajar itu dapat berwujud kongkrit yaitu yang dapat di amati, atau tidak kongkrit yaitu yang tidak dapat di amati.
Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, namun ia tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku-tingkah laku yang tidak dapat di amati. Namun demikian, teorinya telah banyak memberikan pemikiran dan inspirasi kepada tokoh-tokoh lain yang datang kemudian. Teori Thorndike ini di sebut juga sebagai aliran Koneksionisme (Connectionism).
Menurut watson
Watson adalah seorang tokoh aliran behavioristik yang datang sesudah Thorndike. Menurutnya, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang di maksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat di amati (observabel) dan dapat di ukur.
Dengan kata lain, walaupun ia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun ia menganggap hal-hal tersebut sebagai faktor yang tak perlu di perhitungkan. Ia tetap mengakui bahwa perubahan-perubahan mental dalam benak siswa itu penting, namun semua itu tidak dapat menjelaskan apakah seseorang telah belajar atau belum karena tidak dapat di amati.
Watson adalah seorang behavioris murni, karena kajiannya tentang belajar di sejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperti fisika atau biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh dapat di amati dan dapat di ukur. Asumsinya bahwa, hanya dengan cara demikianlah maka akan dapat di ramalkan perubahan-perubahan apa yang bakal terjadi setelah seseorang melakukan tindak belajar.
Pemikiran Watson (Collin, dkk: 2012) dapat di gambarkan sebagai berikut:
Para tokoh aliran behavioristik cenderung untuk tidak memperhatikan hal-hal yang tidak dapat di ukur dan tidak dapat di amati, seperti perubahan-perubahan mental yang terjadi ketika belajar, walaupun demikian mereka tetap mengakui hal itu penting.
Ciri-ciri aliran behaviorisme
Mengutamakan pengaruh lingkungan.
Hasil pembelajaran fokus pada terbentuknya perilaku yang diinginkan.
Mementingkan pembentukan reaksi atau respon.
Bersifat mekanistis atau dilakukan dengan mekanis tertentu, misalnya meminta maaf.
Menganggap latihan itu adalah hal yang penting dalam proses pembelajaran.
Contoh teori behaviorisme
Teori belajar behavioristik ini adalah teori belajar yang umum digunakan di Indonesia. Hal itu bisa dilihat dari beberapa contoh berikut.
Guru menyusun materi atau bahan ajar secara lengkap, mulai materi sederhana sampai kompleks.
Selama mengajar, guru lebih banyak memberikan contoh berupa instruksi.
Jika guru menjumpai adanya kesahalan, baik pada materi maupun pada peserta didik maka akan segera diperbaiki.
Guru lebih aktif memberikan latihan agar terbentuk kebiasaan yang diinginkan.
Guru memberikan evaluasi berdasarkan perilaku yang terlihat.
Guru harus mampu memberikan penguatan (reinforcement), baik dari sisi positif dan negatif.
Teori kognitivisme
Pengertian teori kognitivisme
Teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas.
b. Ciri-ciri Aliran Kognitivisme:
a) Mementingkan apa yang ada dalam diri manusia
b) Mementingkan keseluruhan dari pada bagian-bagian
c) Mementingkn peranan kognitif
d) Mementingkan kondisi waktu sekarang
e) Mementingkan pembentukan struktur kognitif.
contoh atau penerapan teori kognitivisme
Minta siswa untuk merefleksikan pengalaman mereka melalui pembuatan jurnal atau laporan harian tentang kegiatan apa saja yang mereka lakukan.
Mendorong diskusi berdasarkan apa yang diajarkan dengan meminta siswa untuk menjelaskan materi pembelajaran di depan kelas dan ajak siswa lainnya untuk mengajukan pertanyaan.
Membantu siswa menemukan solusi baru untuk suatu masalah untuk mengembangkan cara berpikir kritis.
Minta siswa untuk memberikan penjelasan tentang ide atau pendapat yang mereka miliki.
Membantu siswa dalam mengeksplorasi dan memahami bagaimana ide-ide bisa terhubung.
Meningkatkan pemahaman dan ingatan siswa melalui penggunaan visualisasi dan permainan dalam menyampaikan materi.
Teori humanistic
Pengertian menurut ahli
Menurut Arthur combs
Menurut Arthur Combs yang merupakan seorang pendidik sekaligus psikolog asal Ohio, belajar merupakan kegiatan yang bisa dilakukan di mana saja dan menghasilkan sesuatu bagi dirinya. Combs yang merupakan salah satu tokoh yang ikut berperan pada sejarah teori belajar humanistik mengatakan bahwa pada kegiatan belajar, seseorang bahkan guru sekalipun tidak boleh memaksakan sesuatu hal yang tidak disukai oleh individu yang bersangkutan.
Menurut Abraham maslow
Pengertian berikutnya adalah menurut Abraham Maslow. Maslow memiliki pendapat bahwa belajar merupakan serangkaian proses yang harus dilalui untuk mengaktualisasi dirinya. Diharapkan seorang individu dapat memahami dirinya dengan baik pada saat kegiatan belajar. Belajar merupakan sebuah proses untuk mengerti sekaligus memahami siapa diri kita sendiri, bagaimana kita menjadi diri kita sendiri, sampai potensi apa yang ada pada diri kita untuk kita kembangkan ke arah tertentu.
Pada dasarnya, teori belajar humanistik adalah sebuah teori belajar yang memanusiakan manusia. Pembelajaran hendaknya dipusatkan pada pribadi seseorang atau siswa. Teori ini menekankan pada pendidikan yang berfokus pada bagaimana menghasilkan sesuatu yang efektif, bagaimana belajar yang bisa meningkatkan kreativitas dan memanfaatkan potensi yang ada pada seseorang. Teori humanistik ini muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap teori belajar sebelumnya, yaitu Teori Behavioristik, yang dianggap terlalu kaku, pasif, bahkan penurut ketika menggambarkan manusia.
Manfaat Teori Belajar Humanistik
Manfaatnya teori belajar humanistik adalah sebagai berikut:
1. Mengubah sikap atau perilaku individu, dari yang awalnya tidak baik karena belum mengetahui menjadi baik.
2. Membiasakan individu untuk berlaku secara demokratis, partisipatif, dan humanis.
3. Menjadikan individu sebagai insan yang mudah menghargai perbedaan, kebebasan berpendapat, dan kebebasan dalam menyatakan ide/gagasan.
4. Meningkatkan keinginan belajar individu.
c. Prinsip Teori Belajar Humanistik
Teori belajar humanistik memiliki prinsip-prinsip yang tidak jauh-jauh dari manusia itu sendiri, seperti berikut.
1. Setiap manusia memiliki nalar untuk belajar secara alamiah.
2. Belajar akan terasa sangat bermanfaat jika memiliki relevansi dengan maksud tertentu.
3. Proses belajar dapat mengubah persepsi seseorang akan dirinya.
4. Makna belajar akan terasa jika dilakukan oleh diri sendiri.
5. Setiap pembelajar harus mampu menumbuhkan kepercayaan dirinya.
6. Belajar sosial tentang proses belajar itu sendiri.
d. Tujuan Teori Belajar Humanistik
Seperti telah dituliskan sebelumnya bahwa pada prinsipnya tujuan teori belajar humanistik adalah memanusikan manusi. Hal ini akan memudahkan individu atau seseorang dalam memahami diri dan lingkungannya untuk mencapai aktualisasi diri.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Guru Pintar harus mampu menjadi fasilitator yang mengarahkan siswa tanpa ikut campur terlalu mendalam pada proses pengendalian diri siswa, sehingga diharapkan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
BAB III
KESIMPULAN & SARAN
Kesimpulan
Teori behavioristik Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat di tangkap melalui alat indera.
Teori belajar kognitivisme lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajar itu sendiri.Teori kognitif dikembangkan bertujuan terutama untuk membantu guru memahami muridnya.
Teori humanistic, pengalaman seseorang atau individu merupakan fenomena logika yang dialami oleh individu itu sendiri. Rogers juga mengungkapkan pendapat bahwa setiap manusia memiliki kecenderungan untuk mencapai kesempurnaan hidup, membentuk konsep hidup yang unik, dan tingkah lakunya selaras dengan konsep kehidupan yang dimilikinya. Pembelajaran, menurut Rogers, terjadi melalui fenomena hidup atau pengalaman yang dialami setiap orang.
Saran
Kami selalu merasa makalah ini belum sempurna dan masih banyak kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak akan kami terima dengan lapang hati demi kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
.
Ansyar, Mohammad. 1989. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Depdikbud
Arikunto, Suharsimi. 1999. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta: Bumi Aksara
Idrus, B. A. B., & Pustaka, T. (2012). BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Pengembangan Menurut Hasibuan (2011:68) Pengembangan (. 9–47.

Komentar
Posting Komentar